TNews, JEPARA – Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Jepara Tahun 2025 mencatat capaian yang terlihat mengesankan di sektor pariwisata. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) melaporkan hampir seluruh program berjalan dengan tingkat keberhasilan 100 persen. Namun di balik angka sempurna itu, publik mulai bertanya: seberapa besar dampaknya terhadap perekonomian dan Pendapatan Asli Daerah (PAD)?
Data LKPJ menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, pemerintah daerah telah melaksanakan 68 kegiatan promosi dan event pariwisata, dengan capaian penuh 100 persen. Selain itu, terdapat 4 laporan kegiatan pemasaran destinasi, serta program pengembangan sumber daya manusia (SDM) pariwisata yang juga mencapai target maksimal.
Secara administratif, capaian ini menandakan bahwa seluruh program telah dilaksanakan sesuai rencana. Pemerintah terlihat aktif mempromosikan destinasi wisata, sekaligus berupaya meningkatkan kualitas pelaku wisata melalui pelatihan dan pembekalan.
Namun, di sinilah letak persoalan utamanya.
Aktif Berkegiatan, Tapi Dampak Belum Terlihat
Meski angka capaian menunjukkan hasil sempurna, indikator yang digunakan dalam LKPJ masih berfokus pada jumlah kegiatan dan laporan, bukan pada hasil nyata yang dirasakan masyarakat.
Sebagai contoh:
68 event promosi telah dilaksanakan, namun tidak dijelaskan berapa jumlah wisatawan yang datang
SDM dilatih 100 persen, namun tidak diukur apakah pendapatan pelaku wisata meningkat
Destinasi dipasarkan, namun tidak ada data peningkatan PAD dari sektor pariwisata
Padahal, tujuan utama pembangunan sektor pariwisata bukan sekadar menyelenggarakan kegiatan, melainkan menggerakkan ekonomi daerah.
Kontribusi ke PAD Masih Menjadi Tanda Tanya
Dalam konteks pembangunan daerah, pariwisata seharusnya menjadi salah satu sektor strategis yang mampu menyumbang signifikan terhadap PAD, melalui:
Pajak hotel dan penginapan
Pajak restoran dan kuliner
Retribusi objek wisata
Aktivitas ekonomi UMKM
Namun dalam laporan ini, tidak terlihat keterkaitan langsung antara kegiatan pariwisata dengan peningkatan PAD Jepara tahun 2025.
Akibatnya, publik belum mendapatkan gambaran utuh:
apakah geliat pariwisata benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan pendapatan daerah, atau hanya berhenti pada aktivitas program?
Potensi Besar, Tapi Perlu Ukuran yang Tepat
Jepara memiliki potensi wisata yang sangat besar, mulai dari:
Pantai Bandengan
Karimunjawa sebagai destinasi kelas dunia
Wisata budaya dan ukir khas Jepara
Dengan potensi tersebut, sektor pariwisata seharusnya mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
Namun tanpa indikator yang mengukur:
Jumlah wisatawan
Lama tinggal wisatawan
Tingkat hunian hotel
Pertumbuhan UMKM wisata
Kontribusi nyata terhadap PAD
maka keberhasilan pariwisata hanya akan terlihat di atas kertas, bukan dalam kehidupan nyata masyarakat.
Risiko Kinerja Semu: Angka Tinggi, Dampak Minim
Capaian 100 persen di semua indikator justru memunculkan pertanyaan kritis. Jika semua berjalan sempurna, mengapa dampak ekonominya belum terlihat jelas?
Kondisi ini berpotensi menciptakan apa yang disebut sebagai “kinerja semu”:
Target tercapai
Laporan lengkap
Namun manfaat nyata belum terukur
Jika hal ini terus terjadi, maka laporan kinerja hanya menjadi formalitas administratif, bukan alat evaluasi pembangunan yang sesungguhnya.
Saatnya Berubah: Dari Kegiatan ke Dampak
Para pengamat menilai, ke depan pemerintah daerah perlu mengubah pendekatan dalam mengukur keberhasilan sektor pariwisata.
Indikator yang digunakan tidak cukup hanya:
jumlah event
jumlah laporan
persentase kegiatan
Melainkan harus berorientasi pada:
peningkatan PAD
pertumbuhan ekonomi masyarakat
penyerapan tenaga kerja
kesejahteraan pelaku wisata
Dengan demikian, pariwisata benar-benar menjadi sektor yang memberi manfaat nyata, bukan sekadar program rutin tahunan.
Penutup: Publik Menunggu Bukti Nyata
LKPJ 2025 menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Jepara telah bekerja dan bergerak di sektor pariwisata. Namun pekerjaan besar berikutnya adalah memastikan bahwa semua aktivitas tersebut benar-benar menghasilkan dampak ekonomi yang nyata.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pariwisata tidak diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat dan seberapa besar kontribusinya terhadap PAD.
Jika tidak, maka angka 100 persen hanya akan menjadi catatan di atas kertas,
tanpa benar-benar terasa di kantong rakyat.*
Peliput: Petrus













