TNews, JEPARA— Ribuan warga memadati halaman Klenteng Hok Tek Tong, Rabu (25/02/2026), dalam kemeriahan Festival Imlek 2577 Kongzili yang berlangsung penuh nuansa budaya, toleransi, dan kebersamaan lintas umat.
Perayaan Imlek tahun ini menjadi momentum istimewa karena untuk pertama kalinya festival digelar di klenteng yang berada di jantung Kota Jepara. Suasana semakin bermakna lantaran berlangsung di tengah bulan suci Ramadan, ketika masyarakat Muslim juga tengah menjalankan ibadah puasa.
Sejak sore hari, masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan etnis tampak antusias menikmati rangkaian acara budaya, pertunjukan seni, hingga atraksi barongsai sambil menunggu waktu berbuka puasa bersama.
Ketua DPRD Kabupaten Jepara, Agus Sutisna, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan sosial yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Jepara.
“Perayaan ini bukan sekadar seremoni budaya, tetapi bukti nyata bahwa masyarakat Jepara mampu hidup berdampingan dalam harmoni. Keberagaman adalah kekuatan kita,” ujarnya.

Menurutnya, kebersamaan antara umat Tionghoa yang merayakan Imlek dan masyarakat Muslim yang menjalankan Ramadan menjadi gambaran nyata toleransi yang tumbuh alami di tengah masyarakat.
“Ketika barongsai tampil di suasana Ramadan dan warga dari berbagai agama duduk bersama menunggu berbuka, itulah wajah Jepara yang damai, terbuka, dan saling menghormati,” tambahnya.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, jajaran Forkopimda, serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), yang semakin menegaskan komitmen bersama dalam menjaga persatuan dan kerukunan antarumat beragama di Kota Ukir.
Ketua panitia festival, Harun, menyampaikan bahwa penyelenggaraan perdana ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat dan diharapkan menjadi tonggak sejarah baru keharmonisan sosial di Jepara.
Sementara itu, Bupati Jepara Witiarso Utomo menegaskan Festival Imlek bukan hanya agenda budaya, melainkan simbol Jepara sebagai rumah bersama bagi seluruh elemen masyarakat.
“Festival ini menegaskan jati diri Jepara sebagai daerah yang terbuka, tempat berbagai etnis dan tradisi hidup berdampingan dengan penuh rasa hormat,” ungkapnya.
Selain pertunjukan budaya, kegiatan sosial seperti pembagian angpao kepada masyarakat turut menjadi simbol solidaritas dan kepedulian antarwarga.
Ketua DPRD Jepara berharap Festival Imlek dapat terus dikembangkan menjadi agenda budaya tahunan yang inklusif serta memperkuat identitas Jepara sebagai daerah maritim yang sejak dahulu terbuka terhadap keberagaman budaya.
Festival Imlek 2577 di Jepara akhirnya bukan hanya menjadi perayaan tradisi, tetapi juga pesan kuat bahwa harmoni dalam perbedaan adalah kekayaan bersama yang harus terus dijaga demi masa depan masyarakat yang damai dan bersatu.*
Peliput: Petrus













