RSUD Kartini Jepara Tancap Gas Hadapi Lonjakan DBD, Zero Komplain Bukan Sekadar Slogan

Gambar: Direktur RSUD R.A. Kartini Jepara dr. Tri Iriantiwi sebagai garda terdepan layanan kesehatan dengan kerja cepat, terukur, dan penuh inovasi. Rumah sakit rujukan tipe B ini terus membuktikan bahwa motto “Zero Komplain”.

TNews, JEPARA – Di tengah meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) akibat perubahan musim dan cuaca ekstrem, RSUD R.A. Kartini Jepara tampil sebagai garda terdepan layanan kesehatan dengan kerja cepat, terukur, dan penuh inovasi. Rumah sakit rujukan tipe B ini, yang terus berupaya menargetkan “Zero Komplain” bukan jargon semata, melainkan komitmen nyata untuk menghadirkan pelayanan terbaik bagi masyarakat Bumi Kartini.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, sepanjang pekan 1–4 Januari hingga 1 Februari 2026 tercatat 148 kasus Demam Dengue (DD) dan 8 kasus DBD, dengan incidence rate 9,3 persen dan case fatality rate 0,8 persen. Bahkan, satu anak berusia 12 tahun dilaporkan meninggal dunia, memicu kewaspadaan tinggi seluruh fasilitas kesehatan di wilayah ini.

Menanggapi situasi tersebut, RSUD R.A. Kartini Jepara tidak tinggal diam. Direktur RSUD Kartini, dr. Tri Iriantiwi, menegaskan bahwa rumah sakit telah melakukan berbagai langkah antisipatif, baik dari sisi manajemen, infrastruktur, hingga layanan klinis, guna memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan cepat, tepat, dan manusiawi.

Gerak Cepat Hadapi Lonjakan Pasien

Mengacu pada pengalaman lonjakan kasus DBD pada tahun-tahun sebelumnya — bahkan pernah merawat hingga 114 pasien DBD secara bersamaan — RSUD Kartini kini telah menyiapkan sistem respons cepat atau gercep.

Langkah-langkah konkret yang dilakukan antara lain:

1. Penambahan Bangsal dan Optimalisasi Ruang Rawat

Saat terjadi lonjakan pasien, RSUD Kartini menambah bangsal khusus untuk pasien DBD, baik anak maupun dewasa, dengan mengalihfungsikan ruang rawat inap lain secara terencana. Rumah sakit juga tengah menyiapkan Tambahan High Care Unit. Saat initersedia layanan Critical care meliputi ICU 23 Tempat tidur, dan PICU NICU 16 TT
Rumah sakit akan membangun HCU (HIgh care unit) untuk pasien dengan pengawasan tinggi sebanyak 15 TT yang semula sudah ada 5 TT.
Dengan kapasitas total sebelumnya 367 tempat tidur, RSUD Kartini memastikan pasien tidak tertahan di IGD dan segera mendapatkan ruang perawatan sesuai kondisi klinisnya.

2. Penguatan Instalasi Gawat Darurat (IGD)

IGD RSUD Kartini menerapkan sistem triage prioritas medis, bukan berdasarkan antrean. Pasien dengan demam tinggi dan kecurigaan dengue langsung mendapat pemeriksaan laboratorium awal seperti trombosit, hematokrit, serta tes serologi dengue (NS1, IgG/IgM), sehingga diagnosis bisa ditegakkan lebih cepat.

“Pasien DBD tidak boleh terlambat ditangani, terutama pada fase kritis hari ke-3 hingga ke-7. Karena itu, skrining cepat di IGD menjadi kunci utama,” tegas dr. Tri.

3. Penjaminan Stok Logistik Medis

RSUD Kartini memastikan ketersediaan cairan infus utama seperti Ringer Laktat dan Ringer Asetat, alat pemeriksaan laboratorium, serta obat-obatan simptomatis seperti penurun panas. Untuk kebutuhan trombosit yang meningkat saat lonjakan kasus, rumah sakit berkoordinasi intensif dengan PMI agar suplai tetap terjaga meski dalam kondisi permintaan tinggi.

SOP Ketat dan Fokus Pencegahan Syok Dengue

Dalam penanganan pasien DBD, RSUD Kartini menerapkan Standar Prosedur Operasional (SOP) khusus dengue, terutama untuk mencegah Dengue Shock Syndrome (DSS) yang menjadi penyebab utama kematian pasien.

Tim medis melakukan:

Pemantauan ketat trombosit dan hematokrit,

Observasi kebocoran plasma,

Pengaturan cairan infus yang presisi,

Pemeriksaan laboratorium rutin setiap beberapa jam pada pasien fase kritis.

“Fase hari ke-5 hingga ke-6 adalah fase paling berbahaya. Di sinilah peran pemantauan intensif dan tindakan cepat sangat menentukan keselamatan pasien,” jelas dr. Tri.

Selain tindakan klinis, rumah sakit juga memberikan edukasi langsung kepada keluarga pasien tentang tanda bahaya dengue seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, hingga penurunan kesadaran.

Kesiapsiagaan Musim Pancaroba: Tidak Sekadar Reaktif

RSUD Kartini juga memperkuat sistem Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KDRS) dengan pemantauan data pasien dari puskesmas dan fasilitas kesehatan tingkat pertama. Setiap lonjakan kasus segera dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara sebagai dasar Penyelidikan Epidemiologi (PE) dan intervensi lingkungan.

Langkah preventif lainnya meliputi:

Fogging dan pengendalian sarang nyamuk di lingkungan rumah sakit,

Eliminasi genangan air,

Edukasi penggunaan lotion antinyamuk bagi pasien dan pengunjung,

Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui unit PKRS.

 

Data 2025–2026: Tantangan Besar, Respons Lebih Besar

Data Dinas Kesehatan Jepara mencatat, sepanjang tahun 2025 terdapat:

2.526 kasus Demam Dengue (DD),

119 kasus DBD,

1 kasus kematian,

Total KDRS 2.646 kasus.

Sementara awal 2026 menunjukkan tren peningkatan, dengan 148 kasus DD dan 8 DBD hanya dalam satu bulan pertama. Kondisi ini menjadikan RSUD Kartini sebagai pusat rujukan utama yang memikul beban besar, terutama karena mayoritas pasien merupakan anak-anak.

Namun, di tengah tekanan lonjakan pasien, RSUD Kartini tetap mampu menjaga kualitas layanan. Penambahan bangsal, optimalisasi SDM, dan sistem penanganan cepat terbukti mampu mencegah lonjakan fatalitas meski beban layanan meningkat drastis.

Tantangan Lapangan: Bed, Trombosit, dan Rasio Dokter

dr. Tri tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi, terutama saat lonjakan kasus penyakit musiman:

Ketersediaan tempat tidur (BOR): Pada puncak lonjakan, BOR sempat menyentuh batas maksimal, namun rumah sakit segera mengaktifkan ruang cadangan dan menambah kapasitas.

Stok trombosit: Permintaan tinggi membuat stok PMI sering berada di level siaga, namun koordinasi lintas sektor terus dilakukan agar pasien tidak tertunda transfusi.

Rasio dokter spesialis dan pasien: RSUD Kartini mengantisipasi dengan penyesuaian jadwal, termasuk penambahan layanan sore, agar pelayanan tetap optimal.

“Meski tantangan ada, kami pastikan tidak ada pasien yang ditelantarkan. Prinsip kami: pasien harus ditangani cepat, tepat, dan bermartabat,” tegas dr. Tri.

 

Koordinasi Erat dengan Dinas Kesehatan

RSUD Kartini secara rutin melaporkan kasus DD dan DBD melalui sistem surveilans terpadu ke Dinas Kesehatan Jepara. Data ini menjadi dasar:

Penyelidikan epidemiologi ke wilayah asal pasien,

Fogging fokus di daerah rawan,

Edukasi masyarakat secara masif,

Penentuan status kewaspadaan dini.

Sinkronisasi data antara rumah sakit dan Dinas Kesehatan juga terus diperkuat agar tidak terjadi disparitas angka, sekaligus mempercepat respons kebijakan kesehatan publik.

Imbauan Tegas kepada Masyarakat

Di tengah peningkatan kasus, RSUD Kartini mengimbau masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan medis apabila mengalami:

Demam tinggi mendadak,

Nyeri kepala hebat,

Nyeri otot dan sendi,

Mual, muntah, atau nyeri perut,

Tanda perdarahan ringan seperti mimisan atau gusi berdarah.

Orang tua diminta lebih waspada karena sebagian besar pasien DBD yang dirawat adalah anak-anak. Penanganan sejak dini terbukti mampu menurunkan risiko komplikasi dan kematian secara signifikan.

Zero Komplain: Dari Slogan Menjadi Sistem

Di balik kesiapsiagaan menghadapi DBD, RSUD Kartini juga terus melakukan pembenahan menyeluruh pada kualitas layanan pasien. Mulai dari penataan alur pelayanan, peningkatan kenyamanan ruang tunggu, penyediaan ruang transit sopir ambulans, hingga digitalisasi layanan administrasi dan rekam medis, semua diarahkan pada satu tujuan: kepuasan pasien maksimal tanpa keluhan.

Bagi manajemen RSUD Kartini, “Zero Komplain” bukan berarti meniadakan kritik, melainkan membangun sistem yang:

Cepat merespons keluhan,

Transparan dalam pelayanan,

Humanis dalam komunikasi,

Konsisten dalam mutu klinis.

Apresiasi untuk RSUD Kartini Jepara

Di tengah meningkatnya beban layanan akibat lonjakan DBD, RSUD R.A. Kartini Jepara justru menunjukkan wajah pelayanan publik yang progresif: sigap, adaptif, profesional, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Dengan kesiapan manajemen, ketangguhan tenaga kesehatan, serta inovasi layanan yang terus diperbarui, RSUD Kartini tidak hanya menjadi benteng pertahanan kesehatan masyarakat Jepara, tetapi juga contoh nyata bahwa rumah sakit daerah mampu bersaing dalam mutu layanan, bahkan di tengah tekanan krisis kesehatan.

Ketika banyak institusi terseok menghadapi lonjakan kasus, RSUD Kartini memilih berlari lebih cepat. Dan di situlah makna sejati pelayanan kesehatan publik: hadir, sigap, dan menyelamatkan.*

Peliput: Petrus

Tinggalkan Balasan