Pemkab Tegal Pacu Inovasi, Tapi Peringkat Nasional Masih Jadi Tantangan

Gambar: Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menghadiri kegiatan Tegal Luwih Apik Innovation Award 2025 di Gedung Dadali, Kabupaten Tegal, Senin, 9 Maret 2026. Ajang ini menjadi bentuk apresiasi bagi perangkat daerah dan inovator yang mengembangkan berbagai terobosan pelayanan publik di Kabupaten Tegal. Foto: Ag / Diskominfo Kabupaten Tegal.

TNews, TEGAL – Pemerintah Kabupaten Tegal terus mendorong lahirnya berbagai terobosan dari perangkat daerah melalui ajang Tegal Luwih Apik Innovation Award 2025 yang digelar di Gedung Dadali, Senin (9/3/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman bersama jajaran pimpinan organisasi perangkat daerah, camat, serta para inovator daerah yang selama ini terlibat dalam pengembangan berbagai program pelayanan publik.

Kepala Bapperida Kabupaten Tegal Muhammad Faried Wajdy menyebutkan penilaian inovasi daerah tidak hanya melihat banyaknya program yang dibuat, tetapi juga tingkat kematangannya. Menurutnya, terdapat 20 indikator yang digunakan dalam penilaian, mulai dari dukungan regulasi, ketersediaan sumber daya manusia, hingga kepuasan masyarakat sebagai pengguna inovasi.

“Bukan sekadar jumlah inovasinya, tetapi sejauh mana inovasi itu matang dan benar-benar memberi manfaat,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, indeks inovasi daerah Kabupaten Tegal dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren meningkat. Pada 2023 nilainya 60,33, kemudian naik menjadi 67,80 pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 77,59 pada 2025 dengan predikat sangat inovatif.

Meski begitu, posisi Kabupaten Tegal secara nasional masih berada di peringkat ke-33 sehingga dinilai masih perlu peningkatan.

“Kalau dibandingkan daerah lain, ada yang bisa menghasilkan hingga 170 sampai 200 inovasi dalam setahun. Sementara kita saat ini mencatat sekitar 137 inovasi,” kata Faried.

Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menegaskan inovasi kini menjadi kebutuhan bagi birokrasi, terutama di tengah tantangan pembangunan dan kebijakan efisiensi anggaran daerah.

Menurutnya, terobosan tidak selalu membutuhkan biaya besar, namun harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Yang penting bukan besar kecilnya anggaran, tetapi manfaatnya benar-benar dirasakan warga,” ujarnya.

Ia juga menyinggung upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program Sadesa (Satu Desa, Satu Sarjana) yang pada 2025 menyediakan 387 beasiswa bagi warga desa hasil kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi.

Ke depan, Pemkab Tegal juga mempertimbangkan bentuk penghargaan yang lebih konkret bagi para inovator, termasuk kemungkinan pemberian beasiswa pendidikan lanjutan.

“Supaya semangat berinovasi terus tumbuh dan memberi dampak bagi pembangunan daerah,” kata Ischak.* (Agung)

Tinggalkan Balasan